Harunoblue

Archive for May, 2010|Monthly archive page

Don’t Judge A Book by its Movie: Percy Jackson and Olympians: The Lightning Thief

In harunobooks, harunomovies, harunothink on May 31, 2010 at 2:11 am

Kamu pasti pernah dengar istilah don’t judge a book by its cover yang artinya “kalo beli buku sekalian minta di sampulin” (Saya tau kamu pintar, jadi saya merasa gak perlu untuk menjelaskan artinya lebih jauh lagi). Nah, lalu ada lagi istilah yang diplesetkan dari istilah yang diatas tadi yaitu don’t judge a book by its movie yang artinya kurang lebih “dilarang baca buku sambil nonton pilem” (Kamu boleh percaya boleh gak, tapi sebaiknya jangan).

Jadi begini, saya baru saja selesai menonton pilem Percy Jackson And The Olympians: The Lightning Thief. Hasilnya lumayan mengecewakan bagi saya yang udah pernah baca bukunya. Menurut saya ada dua tipe orang di dunia ini, yang pertama orang yang suka membaca dan yang kedua orang yang suka menonton.

Bagi orang yang suka membaca, menonton sebuah film yang diangkat dari buku bisa jadi sebuah pengalaman yang buruk.  Karena mereka bakal sering dikecewakan dengan perbedaan-perbedaan yang ada di buku dan pilem. Seringkali sesuatu yang tidak ada di buku tapi muncul di pilem atau yang terkadang ada di buku malah ditiadakan sama sekali.

Sedangkan untuk  orang yang lebih suka menonton kebanyakan bakal malas membaca yang versi bukunya. Jadi gak terlalu bermasalah dengan perbedaan tersebut. Saya sendiri lebih suka membaca, karena dengan membaca kita menjadi lebih bebas dalam imajinasi yang tak terbatas. Kita mungkin membaca buku yang sama tapi imajinasi yang kita punya tentu berbeda dengan orang lain. Namun justru inilah yang membuat kita menjadi tidak puas ketika yang dilihat di pilem ternyata berbeda, sangat terbatas dan tidak sebebas dengan apa yang kita punya dalam bayangan kita.

Saat menonton Percy and The Olympians saya menemukan banyak sekali perbedaan, banyak adegan di buku yang dipotong, bahkan diubah sama sekali. Ada tokoh yang dihilangkan ada juga yang ditambah. Pesan saya buat yang gak suka perubahan, mending gak usah nonton pilemnya. Tapi buat yang gak suka baca, pilemnya cukup menghibur kok.

Tapi saya juga ngerti, untuk membuat pilem yang sama dengan yang ada di buku tentu membutuhkan budget yang lebih besar, karena cerita yang ada di buku gak akan selesai hanya dalam waktu dua jam. Biaya produksi akan membengkak, karena pilem yang seharusnya selesai misalnya dalam waktu satu bulan tapi karena panjangnya cerita baru selesai tiga bulan. Biaya produksinya jadi meningkat tiga kali lipat. jadi untuk pilem berbudget terbatas, pemotongan adegan atau perubahan jalan cerita agar cepat selesai menjadi solusi terbaik.

Namun adakalanya perubahan justru memperburuk sebuah pilem, terlalu banyak perubahan yang mendasar akan menghilangkan keindahan cerita itu sendiri. Bagaimanapun juga kita gak bisa menilai sebuah buku itu dari pilemnya, karena sebuah pilem gak bisa seratus persen mengadopsi isi buku.  Nah, jika ingin puas, bacalah bukunya saja. Jika ingin mendapatkan hiburan tambahan silakan nonton pilemnya dan lupakan bahwa anda pernah membaca versi bukunya.

Advertisements

Jangan Bilang-Bilang Saya Suka Bollywood

In harunodays, harunotrivial on May 30, 2010 at 5:44 am

Gak terasa udah subuh. Malam ini saya gak tidur gara-gara nyiapin bahan buat ngajar di bimbel besok pagi. Halah,  gaya! Padahal semalaman asik nonton Bollywood haghaghaghag… Tapi gak bohong juga sih, nyiapin bahannya sambil nonton makanya semalaman sekarang baru siap.

Hmm, sebenarnya awalnya saya malu ngaku nonton Bollywood. Kata orang gak gaul, kampungan banget kalo nonton Bollywood. Saya gak benci Bollywood, tapi karena takut dianggap kampungan, ya sudah saya juga ngaku-ngaku anti Bolywood. Kalo boleh jujur, masa kecil dan remaja saya bisa dibilang dekat dengan Bollywood. Mulai dari SD hingga SMP ketika tivi-tivi Indo memutarkan film-film bollywood tua yang dibintangi oleh Amitab Bachchan, Dharmendra, lalu ada Rishi Kapoor, Methum Cakraborthy, Govinda, Sunny Deol, Salman Khan, Akshay Kumar, Ajay Devgan,  Amir Khan, Shahruk khan dan aktor-aktor lain yang saya lupa namanya.

Dulu saya gak milih-milih buat nonton, biasanya apa yang ada di tivi itu yang saya tonton, namun dengan bertambahnya usia saya mulai memilih. Saat SMA ketertarikan saya pada film-film Bollywood mulai berkurang. Saya biasanya hanya menonton sedikit di awal. Kalo ceritanya menurut saya menarik, saya lanjut tapi kalo gak, ya saya stop.

Setelah tahun 2000  saya lebih tertarik dengan film-film Hollywood yang temanya lebih beragam dan cenderung meninggalkan Bollywood yang hanya berisikan percintaan dan balas dendam. Namun begitu ada juga film-film Bollywood yang masih saya tonton, gak banyak sih, Diantaranya yang saya ingat adalah:

1. Ka Ho Na Pyiar Hai, itu  kali pertama saya tau  Hritik Rosan, waktu itu saya mikir dia aktor Bollywood paling keren karena otot dan dance-nya yang mantap.

2. Chori-Chori Cupke-Cupke, satu-satunya film Salman Khan yang masih saya ingat.

4. Lagaan, filmnya Amir Khan tentang kolonialisme Inggris di India yang berakhir dengan pertandingan Kriket. Not Bad.

3. Kabhi Khusi Kabhi Gam, Saya nonton ini gara-gara Hritik Rosan,  Syahruk Khan dan Amitab Bachchan yang maen dan katanya budget buat produksi film ini gede banget, jadi pengen tau gimana sih filmnya.

4. Mohabbatein, Kata orang sih bagus ceritanya Ada Amitab Bachchan dan Syahruk Khan gitu. Gak terlalu buruk lah menurut saya.

5. Dil Hai Tum Hara, Hm.. Kenapa ya.. Lupa kenapa saya nonton ini. Apa karena ada Preity Shinta-nya? (Dulu saya menganggap Aktris Bollywood paling cantik adalah Preity Shinta dan Hritik Rosan untuk yang terganteng,  tapi kemudian saya sadar bahwa ternyata saya lebih ganteng wkwkwkwkw…)

6. Asoka, Nah ini gara-gara saya liat iklannya. Beda banget dengan film Bollywood lainnya karena ceritanya berdasarkan sejarah gitu, ada perang-perangan, dan Syahruk Khan yang berotot.

7. Kal Ho Na Ho, Film tentang orang sekarat yang jatuh cinta.

8. Koi Mil Gaya, ini gara-gara ceritanya ada Alien mirip-mirip ET, futuristik, dan seperti Asoka, beda banget dengan film-film Bollywood yang terdahulu.

9.  Krissh, nah ini film Super Hero pertama india, Awalnya saya berharap akan menemukan efek-efek keren ala The Matrix tapi sayangnya teknologi mereka belum mampu.  Tapi untuk adegan fightingnya lumayan lah udah pake kungfu, gak free style gedebam-gedebum lagi seperti Film Bollywood kuno.

10. My Name Is Khan, Saya nonton baru-baru ini dan keren baget.

11. Three Idiots, The best Bollywood movie ever.

12.  Rab Ne bana Di Jodi, Nah ini yang baru aja saya tonton atas rekomendasi seorang teman. bukan film baru sih, produksi 2008 cuma nontonya baru sekarang. Komentar saya.. Lumayan lah.. manis-manis menyentuh gimanaa gitu.

Hanya itu yang masih saya ingat, mungkin masih ada beberapa lagi tapi gak terlalu berkesan jadinya lupa. Rencananya sekarang saya mau cari film Swades, Chakde, dan Om shanti Om. Film lama semua, tapi kata teman saya filmnya lumayan.

Nah, yang saya mau bilang adalah, gak semua film Bollywood itu jelek atau kampungan. Meskipun banyak yang jelek, yang bagus juga ada. Tapi itu tergantung selera dan gengsi juga sih. Tapi buat apa malu, kalo memang bagus katakan bagus kalo jelek bilang jelek, tapi jangan karena gengsi menjelekkan yang bagus.

Film Bagus (Menurut Saya)

In Uncategorized on May 28, 2010 at 9:36 pm

Sumpah ini gak penting, tapi saya pengen aja bilang kalo saya punya 4 film favorit yang karakternya “gak normal” tapi ceritanya menyentuh. Nah, bingung kan? Kamu bakal ngerti “gak normal” bagaimana yang saya maksud kalau kamu udah nonton filmnya. Makanya kalo belum tau pada nonton gih, dijamin gak rugi. Highly recommended deh pokoknya… Meskipun ada yang udah jadul tapi tetep mantep kok. Nih dia nih filmnya:

1. Rain Man (1988)

2. Forest Gump (1994)

3. Beautiful Mind (2001)

4. My Name Is Khan (2010)

Met nonton ya…

Akhirnya Jadi Sarjana

In harunofriends, harunopicts on May 26, 2010 at 11:40 pm

Ini adalah foto sahabat saya saat akan mengikuti ujian akhir sidang skripsinya tadi pagi.  Foto diambil ketika dia dengan harap-harap cemas menanti detik-detik pengeksekusian di kursi panas oleh para algojo-algojo intelek yang siap sedia meremukkan thesis mu berkeping-keping dalam artian positif tentu saja 😀  Syukurnya semua berjalan dengan lancar dan dia dinyatakan lulus.. Selamat ya..

Foto-foto lain akan menyusul

Fake Maple tree

In harunopicts on May 25, 2010 at 11:28 pm

Yeaah.. Photoshop sebelum tidur… Malam ini kita ke Kanada, negaranya daun maple. Hm, sekilas foto di atas mirip pohon maple dengan daun warna-warninya, tapi sebenarnya itu cuma pohon kapuk berdaun hijau yang dijamah oleh photoshop dengan sedikit hue/saturation, efek lomo dan pengaturan photo filter. Tampak fantastis bukan? Hahaha… Foto ini diambil beberapa bulan  lalu ketika dalam perjalanan pulang kampung dari Banda Aceh ke Sigli. Kalau ditanya tepatnya dimana, saya juga lupa. Mungkin kalau tidak salah setelah Saree sebelum Padang Tiji. Kalau pengen yang lebih tepatnya lagi…. Sisir aja sendiri!

Mickey Mouse

In harunofacts, harunotrivial on May 25, 2010 at 5:28 pm

Gak tau kenapa iseng-iseng buka You Tube jadi mikirin Mickey Mouse. Lalu muncul rasa ingin tahu sebenarnya kartun mickey mouse yang pertama kali muncul di tivi gimana sih? Akhirnya saya menemukan yang ini:

Plane Crazy yang masih dalam format hitam putih direlease pertama sekali pada 15 mei 1928, menjadi kartun Mickey Mouse yang pertama muncul di layar kaca.  Lalu Baru tujuh tahun kemudian pada tanggal 23 February 1935, Mikey Mouse muncul dengan warna.

Seiring dengan berkembangnya teknologi animasi, kartun Mickey Mouse juga berevolusi mengikuti zaman. Kualitas gambar dan suaranya pun semakin membaik.

Lalu di tahun 2006 muncul sebuah program tivi Mickey Mouse Clubhouse yang disiarkan untuk anak-anak prasekolah dalam format 3D yang tayang hingga tahun 2009.

Kira-kira beberapa tahun lagi akan jadi apa ya kartun Mickey Mouse ini?

Suatu Sore Lewat Setui

In harunoart, harunopicts on May 24, 2010 at 11:34 pm

Setui

Foto ini saya ambil suatu sore  di daerah Setui saat pulang mengajar di Ajun.  Iseng saja sambil mengendarai motor, tangan kanan di setang, tangan kiri  kesurupan mencet shutter kesana kemari. Hasilnya 90% gambar hancur gak fokus. Yah, tapi setidaknya yang ini gak begitu hancur buat di pamerin 😎