Harunoblue

Archive for the ‘harunonews’ Category

Tentang Relokasi Masyarakat Kampung Pulo

In harunoblurry, harunonews, harunopinion, harunothink on August 23, 2015 at 8:21 pm

Masalah banjir memang sudah menjadi makanan pokok masyarakat Jakarta. Kurangnya daerah resapan, pembuangan sampah ke sungai, dan digunakannya daerah bantaran sungai sebagai tempat tinggal membuat masalah banjir kian sulit diatasi.

Untuk menangani masalah tersebut banyak hal yang sudah dilakukan oleh pemprov DKI, seperti membangun waduk, pembersihan sungai dari sampah,  mengosongkan area bantaran sungai untuk memperluas daya tampungnya, dan menyediakan area resapan.

Beberapa bulan ini media hangat membicarakan masalah relokasi penduduk dari Kampung Pulo di bantaran kali Ciliwung yang berakhir dengan bentrok fisik pada 20 Agustus lalu. Mereka menolak untuk di relokasi meskipun Pemprov DKI telah menyediakan rusun untuk menggantikan rumah mereka yang digusur.

Ada banyak hal yang mengakibatkan masyarakat tak mau direlokasi meskipun tempat yang disediakan oleh Pemprov tidaklah terlalu buruk. Hal tersebut diantaranya:

Kampung pulo sudah didiami selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Ada yang lahir, tumbuh besar, beranak pinak dan mengabiskan hidupnya disana. Kampung pulo sudah menjadi kampung halaman, asal usul mereka. Tentu saja tak akan mudah untuk melepaskan itu semua karena semua orang memiliki kenangan. Meskipun mereka tinggal di tanah negara, namun karena adanya pembiaran dan tidak ada tindakan yang tegas dari pemerintah terdahulu masyarakat Kampung Pulo menjadi semakin lekat dengan tanah tersebut sehingga rasa memilikinya semakin kuat dan susah untuk dihilangkan.

Bagi masyarakat urban kelas menengah tentu saja, pemberian izin tinggal disebuah rusun senilai 400 juta merupakan hal yang menguntungkan karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan rusun atau apartment. Namun bagi masyarakat pulo tentu saja ini bukan sekedar pindah tempat tinggal tapi juga mengalami pergeseran budaya. Dimana mereka sudah berpuluh tahun tinggal di area perkampungan yang menginjak tanah dimana masyarakat tinggal dalam ruang lingkup sosial perkampungan yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan rusun.  Dimana masyarakat yang biasanya tinggal membumi dengan sekitarnya, kini harus tinggal di area tempat tinggal bergaya perkotaan di atas gedung layaknya apartemen. Perbedaan tersebut tentu dapat merubah gaya hidup mereka secara drastis. Bagi yang sudah terbiasa dengan kehidupan di perkampungan mungkin akan butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Rumah yang terdapat di kampung pulo ada yang semi permanen, permanen, satu tingkat, ada juga yang dua tingkat. Ada yang besar ada yang kecil. Bagi yang rumahnya biasa saja, mungkin mudah untuk pindah karena tak banyak yang dikorbankan namun bagi yang sudah menghabiskan banyak biaya untuk membangunnya sedikit demi sedikit selama puluhan tahun tentu ada rasa enggan apa lagi jika rumah yang ditinggali dulu lebih besar ukurannya dengan yang dirusun sekarang (rusunawa memiliki 2 kamar tidur, 1 dapur dan kamar mandi). Di tambah lagi mereka harus membayar uang sewa sebesar 300 ribu setiap bulannya karena rusun tersebut bersifat sewa, bukan kredit.

Disatu sisi hal ini terasa tak adil bagi masyarakat kampung pulo, karena mereka merasa haknya diambil tapi disatu sisi lagi, mereka tinggal di lokasi yang bukan haknya, mengingat mereka tinggal di atas tanah negara. Namun tindakan penggusuran tetap harus dilaksanakan untuk mengurangi banjir di jakarta.

Tak mudah memang bagi Pemprov DKI untuk mengambil kebijakan ini. Harus ada yang dikorbankan. Karena apapun pilihannya tak ada yang dapat menyenangkan semua pihak.

Advertisements

Antara Kingdom Tower, Cold War, dan Tower of Babel

In harunofacts, harunonews, harunotrivial on February 23, 2013 at 5:18 pm

Menurut berita kemarin di The Guardian katanya Arab Saudi mau membangun Kingdom Tower yang bakal menjadi gedung tertinggi di dunia (diperkirakan tingginya sekitar 1200 meter) yang akan mengalahkan menara Burj Khalifa (828 meter) yang ada di Dubai. Proyek ini akan dilaksanakan oleh perusahaan konstruksi Inggris, Mace, yang membangun Shard di London. Diperkirakan proses pembangunannya akan selesai pada musim dingin 2018 nanti.

Hal ini menyentil ingatan saya pada sejarah tentang perang dingin atau disebut juga dengan perang urat saraf (1947-1991) antara Blok Barat (Amerika Serikat dan NATO) dan Blok Timur (Uni Soviet dan Pakta Warsawa). Pada masa itu terjadi persaingan sengit di segala bidang antara Blok Barat dan Blok Timur selepas perang dunia kedua, mulai dari bidang olah raga, persenjataan, sampai dengan misi perjalanan ke luar angkasa. Mereka saling berlomba untuk menjadi yang terdepan.

Image

Pencakar langit tertinggi di dunia di tahun 2018 dengan ketinggian 1 kilometer lebih.

Kembali ke soal gedung tertinggi di dunia, saat ini sepertinya negara-negara kaya di dunia yang sudah kelebihan rezeki, mulai terlibat lagi dalam perang dingin, tapi kali ini tanpa blok. Mereka berkompetisi untuk menjadi yang tertinggi dengan mendirikan gedung-gedung dengan ketinggian super. Seolah-olah ingin membuktikan keunggulan dan kedigdayaan masing-masing. Saat ini, Dubai adalah negara pemecah rekor ketinggian gedung yang pernah didirikan oleh manusia. Tapi hal ini tidak akan berlangsung lama, beberapa tahun lagi, Burj Khalifa akan menjadi nomor dua setelah Kingdom Tower.

Perlombaan mencakar langit tersebut tak akan berakhir, karena saya yakin akan ada bangunan yang lebih tinggi, semakin tinggi, melebihi yang sebelumnya. Ada sebuah kisah kuno mengenai sebuah bangsa yang membangun menara tinggi untuk mencapai langit menuju surga, menara tersebut disebut dengan Menara Babel (Tower of Bable). Mengetahui hal tersebut, lantas Tuhan marah dan menghancurkan menara dan merubah semua bahasa mereka hingga tak ada yang sama agar mereka tak bisa saling berkomunikasi satu sama lain. Nah, apakah nanti Tuhan juga akan marah dengan dengan manusia-manusia ini yang mencoba menembus langit dengan menara-menara mereka?