Harunoblue

Archive for the ‘harunothink’ Category

Latihan Menulis : “Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo”

In harunoblurry, harunodream, harunothink, harunotrivial on September 6, 2016 at 7:37 pm

Dahulu kala saat aku masih sangat muda (baca:anak-anak) aku sangat suka menggambar dan saat SMA aku pernah bermimpi untuk menjadi komikus saat dewasa nanti, namun saat kuliah mimpiku berubah menjadi penulis. Pernah aku berharap dapat menerbitkan buku sendiri sebelum usia 30. Ketika usia 30 itu tiba, aku masih tetap memiliki mimpi yang sama meski belum juga terwujud. Terkadang mimpi dan kenyataan berjalan di dua jalur berbeda namun tak ada salahnya jika bisa berjalan bersamaan. Aku masih bermimpi menjadi seorang penulis, masih belajar menjadi penulis.

Lalu ada apa dengan “Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo”? Iseng saja, saat menonton scene pertama drama korea tersebut aku merasa tergelitik untuk menuliskan adegan itu dalam bentuk narasi. Hanya potongan kecil 3,5 menit pertama dari episode pertama, namun kurasa sangat berguna untuk melatih kemampuan mengamati dan mendeskripsikan suasana.

***

Hamparan cahaya memantul di damainya danau sewarna biru yang dibatasi tebing-tebing putih menjulang tinggi menopang langit. Ada beberapa perahu yang melintas di permukaan danau yang sedang membawa para pelancong menikmati beningnya air dan pemandangan indah yang memanjakan mata di sekitarnya. Beberapa orang duduk berkelompok di tepi sungai bersama keluarga dan teman-teman menghabiskan waktu santai di akhir pekan dengan berekreasi di tepi danau. Mereka kelihatan bahagia dan bersemangat, terutama anak-anak yang tampak begitu riang bermain disana.

Namun sayangnya tak semuanya memiliki perasaan yang sama di hari yang seharusnya indah itu. Seorang wanita tampak duduk sendirian di sudut dermaga dengan dua botol shoju di hadapannya, satu kosong satu lagi setengah terisi. Aura keputusasaan bagaikan memancar menciptakan gelembung yang menafikan segala bentuk keceriaan di sekitarnya. Dia mengambil cermin kecil dari tasnya. Diperhatikan sudut bibir kanannya yang terluka dan mata kanannya yang lebam. Dari pada rasa sakit, justru kesedihan dan kekecewaanlah yang paling tampak dari raut wajah sendunya.

Dia memasukkan kembali cermin ke dalam tasnya dan meraih botol shoju yang setengah berisi dan meneguknya perlahan, seolah menikmati rasa sakit yang bersemanyam dalam dirinya. Tak jauh dari tempatnya duduk seorang laki-laki berpakaian lusuh dengan ransel kumal dan tas besar di tangannya tampak sedang memperhatikan wanita itu.

Wanita itu menyadari keberadaan laki-laki itu dan balas memandangnya. Baginya laki-laki itu tampak seperti gelandangan. Siapapun yang melihatnya juga pasti memiliki pemikiran seperti itu. Dia kemudian sadar jika ternyata yang diperhatikan laki-laki itu bukan dirinya, tapi botol shoju di tangannya. Laki-laki itu melemparkan senyum memperlihatkan gigi-giginya ketika pandangan mereka bertemu.

Wanita itu bergidik dengan ragu-ragu menjulurkan botol berisi shoju yang hanya tinggal sepertiganya kepada laki-laki itu. Laki-laki itu sempat tertegun sejenak, namun rasa dahaganya akan shoju mendorongnya untuk meyambut tawaran wanita itu. Dia mendekat meraih botol shoju dan dan mereguk dengan penuh nikmat shoju di samping wanita itu.

Wanita itu agak menyesal memberikan shojunya karena itu adalah botol terakhirnya, namun dia tak ingin menambah daftar sesal dalam hidupnya yang sudah terlampau panjang. Keheningan mengapung, ada kesunyian yang tercipta lewat deguk shoju dan langit biru yang terlampau cerah saat itu.

“Pak, Apakah Bapak pernah merasakan ingin tidur selama ratusan atau ribuan tahun?”Tanya wanita itu memecah kesunyian di antara mereka,”masalah demi masalah selalu saja muncul dan tidak ada harapan akan menjadi lebih baik. Namun aku terus berkata pada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, namun masalah lain pun muncul. Karenanya aku ingin memilih untuk tidur selamanya dan tidak bangun lagi.

Ucapan wanita itu sebenarnya tak mengharapkan jawaban apa-apa. Dia hanya ingin melepaskan sedikit bebannya yang tak hingga itu. Baginya itu hanya sebentuk retorika yang tak membutuhkan jawaban atau semacam katarsis untuk kegundahan jiwanya. Mata wanita itu menerawang jauh, sementara laki-laki itu mendengarkan dengan terus meneguk sisa shoju di tangannya.

“Aku ingin melupakan segalanya tapi itu sama sekali tidak ada gunanya. Bajingan itu meninggalkanku dengan tumpukan hutang, dan perempuan jalang yang menipuku itu kabur bersamanya. Sial, seharusnya aku tidak pernah percaya siapapun,”ujarnya emosional dengan suara meninggi.

“Pak, apa Bapak tahu?”Butiran bening serupa kristal cair mulai jatuh melintas di pipinya,”selama ini aku menganggap jika aku tidak berubah, orang yang aku percayai dan aku sukai juga tidak akan berubah. Tapi ternyata aku salah… mengapa hidupku seperti ini?”

Tangisnya pecah, wanita itu membenamkan wajahnya di lutut. Kesedihan dan rasa kecewa mendalam menyelimuti hidupnya, sesal yang membuncah itu hanya bisa dia larutkan dalam tangis yang sebenarnya tidak dapat memberikan jawaban apa-apa.

Hening merambat sesaat kemudian laki-laki itu meletakkan botol shoju yang kosong di hadapannya dan berkata, “hidupmu tak akan berubah hanya karena kamu menginginkannya.”

Laki-laki itu dengan sikap acuh merebahkan tubuhnya hendak tidur, dia meraih tas yang dibawanya lalu menjadikan sebagai bantal

”Tapi mungkin saja bisa jika kau mati dan hidup kembali,”sambung laki-laki itu sambil memejamkan mata.

“Bapak bilang apa?”Tanya wanita itu seraya mengangkat wajahnya, tak mengerti, yang kemudian menjadi tidak perduli.

Laki-laki itu tak menjawab dan terus saja melanjutkan tidur.

Wanita itu berhenti menangis, angin lembab yang menyapu danau mampir di wajahnya. Dia memukul-mukul dadanya berusaha menenangkan diri lalu menghela nafas panjang dan menghapus air matanya.

***

Well, still far from good, but I’ll keep practicing for sure by using another scene of the drama or maybe some other dramas or movies in my free time.

 

 

Advertisements

Tentang Rizal Ramli

In harunopinion, harunothink on August 24, 2015 at 12:47 pm

Dengan terus meningkatnya kurs dollar tentu saja membuat pemerintahan Jokowi ketar-ketir, pasalnya bukan tak mungkin krisis moneter terjadi lagi di Indonesia ini. Pada saat itu kurs rupiah anjlok hingga ke titik Rp. 17.000/Dollar AS yang berimbas pada jatuhnya perekonomian Indonesia, harga barang naik, jumlah pengangguran meningkat karena PHK dan jumlah masyarakat miskin bertambah. karenanya masyarakat semakin pesimis dengan hasil kerja pemerintah sekarang. Kepercayaan masyarakat akan menurun akibat ketidakmampuannya dalam menstabilkan kondisi ekonomi yang semakin memburuk.

Oleh karenanya dibutuhkan sebuah sosok untuk menarik kembali simpati masyarakat pada pemerintahan. Maka muncullah nama Rizal Ramli yang kontroversial saat ini. Dengan kemunculan Rizal Ramli ini pemerintah berharap akan muncul efek yang sama seperti ketika kemunculan kontroversial menteri Susi di kabinet Jokowi. Kemunculan menteri Susi dengan kebijakan-kebijakan kontroversialnya disambut hangat dan berhasil mencuri perhatian masyarakat. Pada saat itu kepopuleran menteri Susi sukses menaikkan posisi pemerintah di hadapan publik yang mengisyaratkan bahwa masih ada harapan bahwa kabinet kerja jokowi akan membawa perubahan yang baik bagi Indonesia.

Rizal Ramli sebelum diangkat menjadi menteri sudah terkenal menjadi tukang kritik. Bahkan jauh ketika masih di zaman orde baru dan pernah dijebloskan ke penjara karena ulahnya itu.Saat Zaman SBY Rizal Ramli juga tak henti-hentinya mengkritik kebijakan pemerintah mengenai kenaikan BBM dan pernah mendapat somasi dari SBY atas pernyataannya terkait kasus Century. Hingga di masa Jokowi, Rizal Ramli masih terus vokal mengkritisi soal kebijakan ekonomi di pemerintahannya. Setelah dia dimasukkan ke dalam kabinet Jokowi, Rizal Ramli tak juga berhenti menyuarakan kritikannya seperti masalah pembelian 30 unit Airbus 350 oleh Garuda dan proyek listrik 35 ribu watt. Orang semacam ini memang dibutuhkan dalam kabinet Jokowi agar mereka tak terlena dalam jabatan dan benar-benar bekerja sesuai dengan slogan kabinet Jokowi: “Kerja, Kerja, Kerja.”

Penunjukan Rizal Ramli sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman tentu saja bukan hanya sebagai ikon untuk mengembalikan simpati rakyat, beliau juga dikenal mampu dalam bekerja. Rekam jejak karirnya cukup bagus saat menjabat sebagai Kepala Badan Urusan Logistik (Kabulog) pada masa pemerintahan Gusdur, Rizal Ramli dianggap berhasil dalam mereformasi Bulog. Kesuksesan tersebut melejitkan posisinya menjadi Menteri Koordinator Perekonomian yang dianggap berhasil dalam menangani masalah perekonomian di masa pemerintahan Gusdur. Dengan Posisinya sekarang sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman tentunya diharapkan akan mampu mewujudkan mimpi Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Tentang Relokasi Masyarakat Kampung Pulo

In harunoblurry, harunonews, harunopinion, harunothink on August 23, 2015 at 8:21 pm

Masalah banjir memang sudah menjadi makanan pokok masyarakat Jakarta. Kurangnya daerah resapan, pembuangan sampah ke sungai, dan digunakannya daerah bantaran sungai sebagai tempat tinggal membuat masalah banjir kian sulit diatasi.

Untuk menangani masalah tersebut banyak hal yang sudah dilakukan oleh pemprov DKI, seperti membangun waduk, pembersihan sungai dari sampah,  mengosongkan area bantaran sungai untuk memperluas daya tampungnya, dan menyediakan area resapan.

Beberapa bulan ini media hangat membicarakan masalah relokasi penduduk dari Kampung Pulo di bantaran kali Ciliwung yang berakhir dengan bentrok fisik pada 20 Agustus lalu. Mereka menolak untuk di relokasi meskipun Pemprov DKI telah menyediakan rusun untuk menggantikan rumah mereka yang digusur.

Ada banyak hal yang mengakibatkan masyarakat tak mau direlokasi meskipun tempat yang disediakan oleh Pemprov tidaklah terlalu buruk. Hal tersebut diantaranya:

Kampung pulo sudah didiami selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Ada yang lahir, tumbuh besar, beranak pinak dan mengabiskan hidupnya disana. Kampung pulo sudah menjadi kampung halaman, asal usul mereka. Tentu saja tak akan mudah untuk melepaskan itu semua karena semua orang memiliki kenangan. Meskipun mereka tinggal di tanah negara, namun karena adanya pembiaran dan tidak ada tindakan yang tegas dari pemerintah terdahulu masyarakat Kampung Pulo menjadi semakin lekat dengan tanah tersebut sehingga rasa memilikinya semakin kuat dan susah untuk dihilangkan.

Bagi masyarakat urban kelas menengah tentu saja, pemberian izin tinggal disebuah rusun senilai 400 juta merupakan hal yang menguntungkan karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan rusun atau apartment. Namun bagi masyarakat pulo tentu saja ini bukan sekedar pindah tempat tinggal tapi juga mengalami pergeseran budaya. Dimana mereka sudah berpuluh tahun tinggal di area perkampungan yang menginjak tanah dimana masyarakat tinggal dalam ruang lingkup sosial perkampungan yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan rusun.  Dimana masyarakat yang biasanya tinggal membumi dengan sekitarnya, kini harus tinggal di area tempat tinggal bergaya perkotaan di atas gedung layaknya apartemen. Perbedaan tersebut tentu dapat merubah gaya hidup mereka secara drastis. Bagi yang sudah terbiasa dengan kehidupan di perkampungan mungkin akan butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Rumah yang terdapat di kampung pulo ada yang semi permanen, permanen, satu tingkat, ada juga yang dua tingkat. Ada yang besar ada yang kecil. Bagi yang rumahnya biasa saja, mungkin mudah untuk pindah karena tak banyak yang dikorbankan namun bagi yang sudah menghabiskan banyak biaya untuk membangunnya sedikit demi sedikit selama puluhan tahun tentu ada rasa enggan apa lagi jika rumah yang ditinggali dulu lebih besar ukurannya dengan yang dirusun sekarang (rusunawa memiliki 2 kamar tidur, 1 dapur dan kamar mandi). Di tambah lagi mereka harus membayar uang sewa sebesar 300 ribu setiap bulannya karena rusun tersebut bersifat sewa, bukan kredit.

Disatu sisi hal ini terasa tak adil bagi masyarakat kampung pulo, karena mereka merasa haknya diambil tapi disatu sisi lagi, mereka tinggal di lokasi yang bukan haknya, mengingat mereka tinggal di atas tanah negara. Namun tindakan penggusuran tetap harus dilaksanakan untuk mengurangi banjir di jakarta.

Tak mudah memang bagi Pemprov DKI untuk mengambil kebijakan ini. Harus ada yang dikorbankan. Karena apapun pilihannya tak ada yang dapat menyenangkan semua pihak.

Bob Marley, Merah Kuning Hijau, Gimbal, Dan Ganja

In harunothink on June 14, 2010 at 8:05 pm

Punya kaos atau pernak-pernik dengan gambar daun ganja atau warna merah kuning hijau berderet-deret? Punya? Trus kalo emang punya maksudnya itu apa ya? Trus kenapa juga Bob Marley diidentikkan dengan ganja dan warna merah kuning hijau begitu?

Saya sering melihat di jalan orang-orang dengan kaos atau assesoris dengan corak seperti yang saya sebut di atas (ganja, warna hijau kuning merah, dan Bob Marley). Gak tau kenapa rasa ingin tau saya tergelitik, sebenarnya apa sih maksudnya?

Iseng-iseng saya browsing dan sedikit banyak jadi tau kalo warna hijau kuning merah itu adalah warna bendera Rastafari Movement atau sering disingkat dengan Rasta. Rastafari adalah sebuah agama yang lahir di Jamaica, namun ada juga yang lebih suka menyebutnya the way of life ketimbang agama. Agama tersebut berdasarkan pada Alkitab namun telah dipengaruhi oleh agama dan kepercayaan-kepercayan religius lainnya di Jamaica.

Para Rastafarian menyembah satu Tuhan (monotheism)  yang mewakili Holy Trinity: Tuhan Bapa, Tuhan  Anak dan roh Kudus yang mereka sebut “Jah”. Nah “Jah” ini adalah Haile Selassie (Rastafari berasal dari kata Ras Tafari yang merupakan nama lahir Haile Selassie, Ras Tafari Makkonen), Raja Ethiopia yang mereka anggap sebagai titisan Lion of Judah atau Yesus. Lalu atas dasar apa mereka Berani mengeluarkan statement bahwa Haile Selassie adalah “Jah”? Sebelumnya, ada sebuah ramalan yang mengatakan bahwa seorang raja baru akan bertahta di Ethiopia dan itu terbukti, bahkan ada ayat-ayat dalam alkitab yang mendukung hal tersebut seperti Revelations 5 : 5, Revelations 19 : 16, Revelations 22 : 16 and Psalms 87:4, Ezekiel 30, Epistle to Timothy, Revelation 19, 22, Psalms 9,18, 68, 76,and Isaiah 9.

Kembali ke masalah warna tadi, Setiap warna dari bendera Rastafari tersebut memiliki makna tersendiri. Merah melambangkan darah yang tumpah ke bumi, kuning melambangkan emas yang hilang atau kemakmuran juga matahari yang memberikan kehidupan pada semua, dan hijau melambangkan daratan hijau afrika yang hilang.

Lalu ada apa dengan ganja? Ganja atau canabis atau mariyuana dibawa pertama sekali ke Jamaika pada akhir tahun 1800 oleh orang-orang India timur. Sebelum Rastafari muncul ganja digunakan sebagai obat atau  dicampur dengan tembakau untuk rokok. Untuk Rastafarian, Ganja  digunakan untuk memperoleh kebijaksanaan dan menjadi bagian dari ritual keagamaan untuk mendekatkan diri mereka pada “Jah” (Tuhan). Jadi dengan kata lain mereka sembahyang dengan ganja biar lebih khusuk gitu.

Bob Marley, King of Reggae, yang terkenal dengan rambut gimbal yang mengispirasi Mbah Surip itu adalah Rastafarian. Dengan musik Reggae yang berasal dari Jamaica Bob Marley menyebarkan pengaruh Rastafari keseluruh dunia. Karena itulah mengapa selalu ada Bob marley dengan warna merah kuning hijau dan ganja.

Menyoal tentang rambut gimbal Bob Marley, ternyata itu juga ada makna tersendiri bagi Rastafari diantaranya adalah bagian dari sumpah dalam Injil Nazarene dan Leviticus yang melarang mereka untuk mencukur rambut (tapi bukan berarti rastafarian ini selalu berambut gimbal, ada juga yang tidak). Makna yang lain adalah gimbal melambangkan identitas mereka, agar mereka tidak lupa siapa mereka  dan mengingatkan mereka pada Jah (Tuhan) karena dengan rambut gimbal mereka terlihat seperti  singa (Lion of Judah, mungkin)

Ok, kita sudah bicara panjang lebar tentang Rastafari ini, tapi apa sebenarnya tujuan Rastafari ini? Saya juga gak tau, tapi ada yang bilang mereka adalah sebuah gerakan keagamaan dan sebuah revolusi kebudayaan untuk perdamaian dunia, keselarasan rasial, ekonomi, dan reformasi politik.  Tapi menurut yang saya pahami dari bacaan saya alasan munculnya Rastafari adalah untuk kebebasan orang kulit hitam, maknanya disini adalah pembangkangan terhadap penindasan dan simbol kebanggan sebagai kulit hitam.

Bob Marley adalah keturunan campuran. Ayahnya Inggris berkulit putih, sedangkan ibunya adalah Afro-jamaika. Karenanya dia terlahir terlalu hitam untuk masuk ke golongan kulit putih dan terlalu putih untuk masuk ke dalam golongan kulit hitam. Namun pada akhirnya dia memilih masuk dalam golongan kulit hitam. Begitu juga dengan orang-orang kulit hitam yang selama ini selalu di dominasi oleh orang kulit putih, mereka selalu menjadi masyarakat kelas dua bahkan Yesus pun berkulit putih, kenapa bukan kulit hitam? Apa yang salah dengan kulit hitam? Dengan kemunculan Haile Sallassei yang memenuhi ramalan akhirnya mereka memiliki tuhan dari golongannya sendiri. Yah bagaimanapun juga itu hanya asumsi saya saja yang tak bisa dipegang kesahihannya.

Sekarang banyak orang-orang yang bukan kulit hitam atau afrika yang mengaku rastafarian dengan rambut gimbal, pakaian dan assessoris bewarna merah kuning hijau, menyukai/memainkan musik reggae, mengaku berideologi Rastafari, namun mereka tak bisa sepenuhnya dianggap rastafarian. Karena pada dasarnya rastafarian sejati itu adalah orang afrika yang secara sadar dibesarkan dengan rasa kebanggan terhadap warisan , agama, kebanggaan, dan keberadaannya di dunia sebagai orang kulit hitam Afrika atau… menganut agama Rastafari dan menjalankannya secara kaffah.

Yah, akhirnya seharian ini saya habiskan di depan internet membaca soal Rastafari, dan saya jadi tahu  apa hubungan antara  Bob Marley, Merah Kuning Hijau, Gimbal, Dan Ganja. Ternyata itu bukan hanya  sekedar  gaya-gayaan tapi juga ada hubungannya dengan  pemujaan terhadap Jah, Tuhan Rastafari.

Tentang Kecaman-Kecaman Terhadap Israel itu…

In harunothink on June 1, 2010 at 11:48 pm

Serangan Israel pada misi kapal Mavi Marmara pembawa bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza telah mengundang berbagai kecaman dari penjuru dunia. Semua pada tereak-tereak tapi gak bisa melakukan apa-apa, tak ada tindakan riil yang bisa diambil terkait serangan tersebut.

Mahasiswa berkoar-koar bakar bendera di jalan-jalan utama, organisasi-organisasi islam cuap-cuap penuh kutukan, pemerintah nyanyi-nyanyi sibuk mengecam, lalu apa? Apakah dengan begitu lantas Israel bakal hancur? Gak ngaruh kalee…

Seharusnya ada tindakan nyata yang benar-benar bisa bikin Israel kapok, bukan hanya kecaman keras yang mungkin hanya akan  terdengar seperti siulan saja di telinga mereka.

Menurut saya dari pada gak jelas gitu mending kita nyumbang buat mereka, lewat posko-posko bantuan buat palestina. Setidaknya apa yang kita berikan bisa jadi kehidupan, dan kekuatan bagi mereka untuk terus berjuang, sekecil apapun, bantuan kita bisa menjadi senjata, peluru, makanan, dan apapun yang dapat melawan kekejaman Israel. Jadi gak hanya ribut mengutuk yang gak ada manfaatnya buat palestina, mending kita nyumbang semampu kita yang secara tidak langsung akan bermanfaat buat saudara-saudara kita di Palestina. Contohnya seperti yang dibawah ini

SMS Donasi untuk palestina:
ketik MERC PEDULI kirim ke
7505 (tarif Rp.6.600/sms)

Atau mungkin yang lebih baik, tapi agak sinting:

Kalo seandainya smua orang islam di dunia (1,57 milyar jiwa) bersatu untnk ngupil, trus dikumpulin dan dijatuhin datas negara israel mungkin efeknya gak jauh beda dengan Hiro- shima dan Nagasaki tahun 1945. Masalahnya kebanyakan orang lebih suka ngomong doang dari pada ngupil.

Hehehe… Intinya adalah jangan cuma bisa ngomong, tapi wujudkan dengan usaha nyata.  Buktikan kepedulian kita bukan hanya sebatas teriakan-teriakan, tapi juga sesuatu yang bisa bermanfaat buat mereka.

Don’t Judge A Book by its Movie: Percy Jackson and Olympians: The Lightning Thief

In harunobooks, harunomovies, harunothink on May 31, 2010 at 2:11 am

Kamu pasti pernah dengar istilah don’t judge a book by its cover yang artinya “kalo beli buku sekalian minta di sampulin” (Saya tau kamu pintar, jadi saya merasa gak perlu untuk menjelaskan artinya lebih jauh lagi). Nah, lalu ada lagi istilah yang diplesetkan dari istilah yang diatas tadi yaitu don’t judge a book by its movie yang artinya kurang lebih “dilarang baca buku sambil nonton pilem” (Kamu boleh percaya boleh gak, tapi sebaiknya jangan).

Jadi begini, saya baru saja selesai menonton pilem Percy Jackson And The Olympians: The Lightning Thief. Hasilnya lumayan mengecewakan bagi saya yang udah pernah baca bukunya. Menurut saya ada dua tipe orang di dunia ini, yang pertama orang yang suka membaca dan yang kedua orang yang suka menonton.

Bagi orang yang suka membaca, menonton sebuah film yang diangkat dari buku bisa jadi sebuah pengalaman yang buruk.  Karena mereka bakal sering dikecewakan dengan perbedaan-perbedaan yang ada di buku dan pilem. Seringkali sesuatu yang tidak ada di buku tapi muncul di pilem atau yang terkadang ada di buku malah ditiadakan sama sekali.

Sedangkan untuk  orang yang lebih suka menonton kebanyakan bakal malas membaca yang versi bukunya. Jadi gak terlalu bermasalah dengan perbedaan tersebut. Saya sendiri lebih suka membaca, karena dengan membaca kita menjadi lebih bebas dalam imajinasi yang tak terbatas. Kita mungkin membaca buku yang sama tapi imajinasi yang kita punya tentu berbeda dengan orang lain. Namun justru inilah yang membuat kita menjadi tidak puas ketika yang dilihat di pilem ternyata berbeda, sangat terbatas dan tidak sebebas dengan apa yang kita punya dalam bayangan kita.

Saat menonton Percy and The Olympians saya menemukan banyak sekali perbedaan, banyak adegan di buku yang dipotong, bahkan diubah sama sekali. Ada tokoh yang dihilangkan ada juga yang ditambah. Pesan saya buat yang gak suka perubahan, mending gak usah nonton pilemnya. Tapi buat yang gak suka baca, pilemnya cukup menghibur kok.

Tapi saya juga ngerti, untuk membuat pilem yang sama dengan yang ada di buku tentu membutuhkan budget yang lebih besar, karena cerita yang ada di buku gak akan selesai hanya dalam waktu dua jam. Biaya produksi akan membengkak, karena pilem yang seharusnya selesai misalnya dalam waktu satu bulan tapi karena panjangnya cerita baru selesai tiga bulan. Biaya produksinya jadi meningkat tiga kali lipat. jadi untuk pilem berbudget terbatas, pemotongan adegan atau perubahan jalan cerita agar cepat selesai menjadi solusi terbaik.

Namun adakalanya perubahan justru memperburuk sebuah pilem, terlalu banyak perubahan yang mendasar akan menghilangkan keindahan cerita itu sendiri. Bagaimanapun juga kita gak bisa menilai sebuah buku itu dari pilemnya, karena sebuah pilem gak bisa seratus persen mengadopsi isi buku.  Nah, jika ingin puas, bacalah bukunya saja. Jika ingin mendapatkan hiburan tambahan silakan nonton pilemnya dan lupakan bahwa anda pernah membaca versi bukunya.